Om Swastyastu,
Kelihatannya sangat sepele sekali, namun
masih banyak dikalangan umat Hindu yang belum tahu maknanya, sehingga sering
menjadi pertanyaan. Dari seringnya muncul pertanyaan tersebutlah dapat ditarik
satu kesimpulan bahwa masih banyak umat kita yang belum tahu walaupun mereka
telah dari lama menggunakan bunga sebagai salah satu sarana persembahyangan.
Dengan demikianlah saya tertarik untuk
menulisnya disini, semoga saudara mendapatkan sekilas gambaran tentang makna
bunga sebagai sarana upacara dan sekaligus sebagai sarana persembahyangan. Saya
tahu sudah ada diantara saudara telah tahu dan faham tentang makna bunga, namun
tulisan ini hanya bagi saudara yang masih memerlukan.
Berbicara tentang bunga, dapat dimaknai
dari berbagai sisi, antara lain: dari sisi baunya, harum merupakan bau yang
paling disenangi, dicintai oleh manusia, sehingga bunga disebut sebagai simbol
bhakti (cinta) kehadapan Tuhan. Ada yang memaknai dari sudut warnanya,
diidentikan dengan warna dari Nawa Dewata, sehingga bungan disebutkan sebagai
sarana mendekatkan diri kepada Tuhan melalui manifestasinya.
Ada pula yang mengatakan bahwa bunga itu
cikal bakal dari buah, buah itu adalah pahala, sehingga bunga disebut sebagai
sebuah sarana untuk mempercepat proses kita mendapatkan pahala dari karma kita.
Dan lain sebagainya, semuanya itu menurut saya tidak ada yang salah.
Kadang-kadang bunga itu digunakan juga oleh saudara kita yang beda agama,
sesuai dengan kepentingan mereka.
Dengan demikian saya dapatkan satu makna
bunga yang jarang bahkan belum ada yang pernah menyinggungnya, melalui sebuah
cerita pendek dari guru pembimbing saya sejak saya belum menjadi seorang
Pedanda, ceritanya begini:
Ada sebuah keluarga kecil yang terdiri
Ayah, Ibu dan dua anak laki. Anak yang lebih tua bernama Si Hitam, dan yang
kecilan namanya Si Putih. Kedua anak kakak beradik ini karakternya sangat
berbeda sehingga mereka diberi nama yang kelihatan berlawanan, yaitu Hitam, dan
Putih. Singkat cerita, dirumah itu memang ada benda warisan satu batang pohon
bunga mawar merah. Entah bagaimana asal mulanya, si Putih sangat sayang pada
pohon mawar itu, dipeliharanya, diberi pupuk, diberi air, dibersihkan dari
daun-daunnya yang sudah kering, namun si Hitam sama sekali tidak mau tahu,
menganggap adiknya kurang pekerjaan.
Bahkan si Hitam kadang kadang entah sengaja
atau tidak mematahkan dahan mawar itu, intinya si Hitam memperlakukan pohon
mawar itu dengan sembarangan. Lanjut cerita, setelah beberpa bulan, lalu mawar
merah itu berbunga dua kuntum, warnanya sangat menarik, kuntum bunganya besar,
baunya wangi, lalu si Putih pun memetik bunga mawar itu dengan sopan, sebelum
memetik dia berbicara sendiri seolah-olah berbicara kepada pohon mawar, begini
dia berbicara: "Mawar, aku minta bungamu satu ya, nanti kau akan berbunga
lebih lebat lagi". Demikian antara lain kata-kata si Putih, itu juga dia
lakukan setiap kali dia menyiram sambil berbicara dengan pohon mawar itu,
mencurahkan rasa cinta kasih dan bangganya terhadap tumbuh-tumbuhan.
Setelah berbicara begitu baru ia memetik
bunga mawar itu, diciumnya bunga itu baunya harum sekali. Kemudian beberapa jam
lagi datang si Hitam, melihat bunga mawar yang indah lalu dia memetik tanpa ba,
bi, bu, langsung dipetiknya secara kasar, setelah dipetik bunga mawar itu lalu
dia cium, dia merasakan bau yang sangat wangi, sama dengan bau yang dicium oleh
adiknya tadi.
Demikianlah cerita singkat dari guru saya.
Lalu, Beliau menyimpulkan bahwa bunga itu memberi kita contoh pendidikan yang
amat dalam, yaitu walaupun mereka ada yang menyayangi dan ada pula yang
membencinya, namun pada saatnya si bunga akan memberikan sesuatu yang sama
kepada kedua belah pihak, si bunga tidak membeda-bedakan antara yang menyayangi
dengan yang membencinya.
Makna seperti inilah yang patut kita
tangkap dan kita pelajari untuk merubah sikap kita mengikuti sikap bunga,
memang hal ini tidak semudah membalikan telapak tangan, namun kita terus
berusaha kearah itu, demikian pesan yang amat dalam disampaikan kepada kita oleh
para leluhur kita pesan yang terbungkus rapi, maka kita sekarang perlu
membukanya untuk kepentingan kita bersama dijaman seperti ini.
Sebuah teori itu sangat perlu, namun jangan
mentok pada teori, teori itu kita harus praktikan sedikit demi sedikit, sehingga
lama kelamaan kita tidak akan sadar sudah biasa melakoninya. Demikanlah sebagi
tambahan makna bunga yang digunakan oleh umat Hindu di saat berupacara.
Perlu saya tekankan disini bila saudara
ingin sembahyang ke Pura, bawalah perlengkapan sembahyang dengan lengkap sesuai
keperluan sembahyang. Jangan ketika sudah sampai di Pura baru kita mencari
bunga, tengok kanan-tengok kiri, kadang-kadang canang di banten teman kita
ambil bunganya untuk sembahyang, itu adalah hal yang salah, karena kalau kita
mengambil bungan canang dari banten yang belum dihaturkan (masih sukla),
berarti kita telah merusak banten yang masih sukla dan hal itu besar dosanya,
dan apabila kita mengambil bunga dari canang yang sudah dihaturkan (surudan),
berarti kita sembahyang dengan memakai bunga bekas.
Disamping itu sangat kelihatan sekali kalau
kita sembahyang penuh dengan ketidak ikhlasan, karena tidak menyiapkan diri
ketika akan menghadap Tuhan. Dan satu lagi, kalau saudara sembahyang di Pura
mana saja, setelah selesai sembahyang tolong ambil bunga, kwangen, serta dupa
bekas dipakai sembahyang, kemudian di tempat sampah yang tersedia, dan kalaupun
tidak ada tong sampah yang disediakan di Pura, lebih baik dibawa saja pulang
agar nanti ditempatkan pada tempat sampah dirumah, sehingga Pura sebagai tempat
suci kita tetap akan terjaga kebersihannya.
Om Santih, Santih, Santih, Om
Sumber: Ida Pedanda Gede Made Gunung, 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar